Total Tayangan Halaman

Sabtu, 05 Januari 2013

Perang Salib I

 Kondisi darurat di Byzantium memaksa Kaisar Alexius I meminta pertolongan kepada Paus Urbanus II untuk membantu Kekaisaran Byzantium dari serangan tentara Seljuk. Sebelumnya, pada tahun 1071 M, Kekaisaran Byzantium dikalahkan oleh pasukan Seljuk yang dipimpin oleh Sultan Alp Arselan di Manzikert. Saat itu kekuatan Islam yang diperkirakan hanya berjumlah 15.000 prajurit berhasil mengalahkan 40.000 pasukan Romawi. Kekalahan tersebut mengakibatkan hampir seluruh wilayah Asia Kecil ( sekarang Turki ) dikuasai Islam.
 Pada tahun 1903 M dan 1904 M Kaisar Byzantium kembali mengirim surat kepada Paus Urbanus II di Romawi Barat. Saat konsili ( pertemuan ) yang diadakan di kota Clermony-Ferrand ( Prancis tengah ), Paus Urbanus II mendengungkan  pidato dengan berapi-api, ia mengimbau agar orang-orang Kristen Barat agar membantu Byzantium. Konon karena begitu hikmatnya pidato Paus saat itu, sampai-sampai orang yang mendengar pidato Paus berseru "Deus Le Volt!" Yang artinya " Allah menghendaki. "
  Harus diketahui, bahwa sebenarnya terjadi pertentangan antara gereja Katholik Barat dengan gereja Orthodox Timur. Meski begitu, seruan dari Paus bukan saja untuk mempertahankan Kekaisaran Byzantium, tetapi juga untuk merebut kembali Yerusalem. Sejak Seljuk menguasai Yerusalem ( setelah mengalahkan Dinasti Islam lainnya, Fathimiyah ) pada Tahun 1078, umat Kristen tidak lagi bebas untuk beribadah.
 Setelah pasukan Salib gelombang pertama bersiap, mereka pun bergegas melalui sungai Rhein dan dan Danau menuju arah tenggara dengan tujuan Yerusalem. Pasukan ini dikenal kejam, di perjalanan mereka juga membunuh orang-orang Yahudi. Mereka berhasil bala tentara Islam dari wilayah Eropa Timur. Namun, sesaat setelah menyebrang ke Asia Kecil, pasukan ini dikalahkan oleh pasukan Seljuk. Sisa-sisa tentara Salib lalu kembali dan bergabung dengan kelompok kesatria Salib lain dari Inggris, Prancis dan Italia Selatan (Normandia) di Konstantinopel pada tahun 1097.
   Tindakan keji orang-orang Eropa Barat ini mengejutkan Kaisar Byzantium sendiri. Akhirnya kaisar mengikat perjanjian dengan para kesatria Salib bahwa mereka harus taat kepada Kaisar Byzantium selama berada di wilayah Eropa Timur. Paska kesepakatan, pasukan Salib bergegas menuju Yerusalem. Para kesatria Salib secara iman dan gereja terikat pada Paus di Gereja Roma, namun secara wilayah tunduk pada Kekaisaran Byzantium. Jadi, di Eropa ada 2 golongan, yakni golongan orang-oang Eropa Barat yang mengabdi pada Roma dan golongan orang-orang yang mengabdi pada Kekaisaran Byzantium.
  Seperti yang sudah dijelaskan di awal, bahwa Kekaisaran Byzantium ( Gereja Ortodoks Timur ) sebenarnya punya hubungan yang baik dengan orang-orang Islam Arab. Hanya saja setelah Seljuk berhasil mengalahkan dinasti Fathimiyah, hubungan antara Islam dan Kristen tidak seharmonis dulu.
  Setelah melewati pertempuran di Asia kecil, pasukan Salib tiba di Yerusalem pada bulan Juni tahun 1099M. Pengepungan terjadi beberapaminggu hingga akhirnya mereka berhasil menguasai Yerusalem, namun tidak berhasil menduduki Damsyik dan Aleppo. Banyak rakyat beragama Islam dan Yahudi dibunuh. Para pemimpin Tentara Salib kemudian mendirikan kerajaan Yerusalem ( 1099-1187 ) dan membuat basis di tiga negara, yakni Antiokhia, Edessa, dan Tripoli. Sesuai kesepakatan dengan Kaisar Byzantium, secara resmi ( wilayah ) kerajaan Yerusalem berada di bawah Byzantium, sedangkan iman dan gereja berada di bawah Paus di Roma.
  Rupanya perubahan perlahan terjadi setelah orang-orang Eropa Barat menetap di wilayah Timur, mereka mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan Timur (Arab-Turki). Keseimbangan dan keharmonisan pelan-pelan timbul di antara orang-orang Kristen dengan Orang-orang Islam. Bahkan raja Yerusalem yang pertama, Baldwin I mengganti pakaiannya dengan pakaian ala Timur. Ia juga memelihara janggut dan makan sambil duduk di permadani di lantai.
  Jika terjadi peristiwa yang tidak diinginkan, hal itu mungkin dilakukan oleh pendatang baru dari Eropa Barat  yang masih Fanatik. Pernah seorang Amir Arab sedang melakukan ibadah Shalat di masjid Al-Aqsa, ia diserang oleh seorang prajurit, namun sekelompok orang Kristen yang sudah lama menetap di sana segera menangkap dan mengusir prajurit tersebut. Lalu mereka meminta maaf pada sang Amir sambil menerangkan bahwa orang itu baru saja datang dari Eropa Barat.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar